Jumat, 18 Januari 2013

Ekspedisi Atap Dunia



Hipoksia menjadi inisiasiku di cartenz
Siang itu tanggal 11 agustus 2000, aku dengan Kang Soen (Effendy Soen) menumpang pesawat milik PT.freeport, Airfast tiba di bandara Mozes kilangin timika. Angin panas kering menyapu kulit kami ketika berjalan menuju departing room yang berada agak jauh dari tempat berhentinya pesawat...tujuan kedatangan kami disini untuk bergabung dengan tim poligon yang akan melakukan pendakian di puncak cartenz pyramid (4884 mdpl)dalam rangka peringatan 55 tahun kemerdekaan indonesia. tim sudah berada di disini beberapa hari sebelumnya guna melakukan latihan fisik dan tehnik serta penyesuaian ketinggian. setelah mengambil beberapa ransel besar kami yang diturunkan melalui bagasi pesawat,..kami berjalan keluar bandara,..kang!.. seru seorang pemuda berbadan tegap menyapa kang soen dari balik pintu keluar,...eh..ternyata salah satu anak buahnya "pak daeng" yang ditugaskan menjemput dan menemani kami sebelum pendakian. Pak Daeng adalah komandan grup satgas intel satuan khusus yang ditempatkan didaerah itu. Setelah bertemu pak daeng di "tokonya" kami menuju hotel yang sudah disediakan untuk bermalam serta melakukan persiapan. memang waktu kami yang sangat sempit kami harus memanfaatkan waktu itu sebaik mungkin termasuk repack bawaan kami dan tentunya istirahat yang cukup. malam itu anak buahnya pak daeng kembali mengetuk pintu kamar untuk mensuplay ransum dan perbekalan kami untuk pendakian besok pagi..sekali lagi kami membongkar ransel kami berdua untuk menata ulang pakaian ,ransum dan tentunya peralatan shuting. Tepat jam 5 subuh kami sudah dijemput anak buah pak daeng untuk menuju ke bandara Mozes kilangin timika, karena kami atas budi baik Pak Aerlangga "boss" Airfast akan meminjamkan sebuah heli jenis bell untuk kami menuju cartenz..pagi itu kami masuk di hanggar airfast masih terlihat lengang namun pak Aerlangga sudah menunggu diruang kerjanya yang berada di salah satu hanggar,..sambil menikmati teh hangat ,.Pak Aerlangga yang juga teman lama kang soen, banyak bercerita tentang berbagai operasi militer di papua yang melibatkan dirinya."De,sudah siap? soalnya ke cartenz pakai heli lebih bahaya lho!..ga ada aklimatisasinya" seru Pak aerlangga padaku,..sambil setengah percaya, "Siap pak" kata kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.Memang jauh lebih beresiko jika kita mencapai puncak cartenz dengan menggunakan helikopter jika dibandingkan dengan mendaki secara bertahap,..karena itu tadi,aklimatisasi merupakan faktor penting bagi seorang pendaki yaitu untuk melakukan penyesuaian tubuh pendaki dengan ketinggian dan suhu yang berlaku..jika aku dan kang soen harus melakukan aklimatisasi dulu, maka kita akan tertinggal dari tim yang sudah mulai mendaki sejak tiga hari lalu dan akhirnya tidak terkejar deadline yang telah ditentukan. menggunakan helikopter merupakan shortcut untuk bergabung dengan tim tetapi memiliki resiko paling fatal dan bisa berakibat pada kematian. Jauh hari sebelum berangkat Pimpinan Ekpedisi POLIGON, Kol.inf.Edhi Wibowo telah mengingatkan kami untuk melakukan persiapan sebaik mungkin termasuk fisik dan tehnis hingga mencapai zero accident. akupun sebulan penuh telah melakukan latihan fisik untuk mencapai kualitas baik dengan keberadaan Hb dalam darah pada posisi yang prima. kondisi Hb dalam darah harus berada pada tingkat prima karena berhubungan dengan kemampuan hemoglobin dalam darah untuk mengikat oksigen.Pada ketinggian tertentu tingkat oksigen yang diikat oleh darah semakin sedikit sehingga membuat kita akan merasa mual, pening, susah bernafas dan pada tingkatan akut akan mengalami kehilangan kesadaran,koma atau berakhir dengan kematian. gejala gejala ini yang sering dikenal dengan nama penyakit gunung atau mountain sickness atau hipoksia. salah satu untuk mencegah penyakit gunung ini adalah dengan melakukan aklimatisasi atau penyesuaian pada ketinggian secara bertahap. Kang soen lebih terlatih dalam menghadapi mountain sicknes ini karena selama satu minggu penuh sebelum ke Timika , dia melakukan puluhan sortie terjun payung dari ketinggian 6000 kaki, otomatis tubuhnya lebih cepat melakukan penyesuaian terhadap ketinggian dibanding aku . setelah menikmati secangkir teh di kantornya Pak Airlangga, kita menuju apron dimana sebuah helicopter jenis bell sudah menunggu, sesaat aku dan Kang Soen melompat kedalam cabin dan pak Airlangga menutup pintu dari luar sambil mengacungkan jempol pada pilot isyarat kalo kita ready for take off,.. start engine dan tak lama kami sudah mengudara, vector to cartenz. Aku dan kang soen diminta untuk menggunakan masker oksigen selama penerbangan, maklum kali ini kami terbang agak tinggi sehinga kadar oksigen di cabin agak menipis,..kurang lebih 30 menit , tak jauh didepan kita sudah terbentang pegunungan jayawijaya yang begita gagah,..puncak sukarno yang diselimuti salju tepat didepan kami dan sedikit serong ke kanan cartenz pyramid tampak menonjol bagai sebilah mata kampak dengan punggung tebal dan terjal,..kami sempat beberapa kali memutar diatas cartenz pyramid sebelum menuju landing pad yang sudah disiapkan oleh tim poligon yang telah tiba sehari sebelumnya,..base camp kita berada di lembah danau danau (4200 mdpl), tempatnya bagaikan sebuah cawan yang dikelilingi oleh cartenz summit (4884 mdpl),puncak jaya (ngapulu), dan cartenz timur sehingga tidak heran tiupan angin sangat kencang di daerah itu, dan merupakan suatu tantangan bagi pilot kami untuk mendaratkan helikopter secara sempurna di base camp,..tak lama pilot menengok ke kami dan memberi aba aba untuk melompat saja karena sangat tidak mungkin untuk touch down diatas landing pad akibat tail wind atau angin kencang dari belakang. Aku dan kang Soeng melompat dan menjauh dari helikopter yang setengah hovering, menyusul sebuah lambaian ke pilot tanda terima kasih ,..sesaat saja heli itu memutar ,meninggi dan menghilang diantara tembok tebing lembah danau danau,..seiring dengan lenyapnya deru suara heli itu menyadarkan ku akan kesunyian lembah danau danau yang misterius. .....Selamat datang !... suara kapten.inf.iwan setiawan menyambut kita di dekat halipad,..sambil berjalan menuju basecamp kapten iwan lebih banyak berbicara dengan Kang Soen tentang kesiapan tim jelang pendakian cartenz summit tanggal 16 agustus nanti. tak banyak yang kita lakukan di base camp pada hari itu, maklum sebagian anggota poligon masih melakukan penyesuaian dengan ketinggian lembah danau danau. Beberapa saat berada di base camp, mulai kukeluarkan camcorder ku untuk melakukan reportase dengan Kang soen,mulai dari persiapan tim,..estimasi waktu pendakian,dan interview. sesekali nafasku mulai tersengal sengal ketika harus berpindah dengan camera gear dari satu titik ke titik yang lain. oksigen terasa sangat tipis, sesekali kubantu pernafasanku dengan oksigen portable yang kubawa di pinggang. tak terasa hari semakin siang dan kami mencoba untuk berjalan hingga beberapa beberapa ratus meter di lidah es yang menjulur dari puncak sukarno. hal ini dilakukan untuk melatih tubuh kita melakukan adaptasi dengan ketinggian. Ketika melakukan aktifitas tubuh kita tidak terlalu tersiksa dengan tipisnya oksigen yang ada,hal ini karena paru paru kita bekerja lebih keras sehingga oksigen jauh lebih banyak terhisap oleh kita,...yang paling menyiksa ketika kita diam dan tidak melakukan apa apa, gejala hipoksia lebih cepat menyerang yang diawali dengan rasa kantuk yang berat, serasa melayang dan mau merebahkan kepala saja,..."gil, pokoknya jangan tidur ya! entar mati enak lho.." tukas kang Soen,ketika melihat mataku sudah berat pada saat istrihat siang di base camp."Ngantuk banget kang!" kataku,..sambil menampar nampar pipiku,kang Soen mengajakku untuk memindahkan batu batu sebesar kepala yang ada di dekat tenda,maksudnya supaya aku tetap bergerak dan tidak terserang hipoksia..satu tabung portable oksigenku sudah habis,masih tersisa dua tabung lagi, tapi harus ku irit-irit hingga tubuhku benar benar mulai menyesuaikan dengan ketinggian. Rasa sakit perlahan mulai datang menyerangku berawal dari rasa susah bernafas , kesadaran mulai berkurang karena ketika aku disuruh menghitung dari angka satu sampai dua puluh, mulai ada angka yang terlewati dan tidak berurut, hal ini menunjukan gejala hipoksia subyektif seperti gangguan konsentrasi dan gerakan koordinatif yang semakin lama kurasa semakin parah..sakit kepala juga mulai menyerang seakan kepalaku dijepit oleh dua batu besar dan benar benar sakit. yang kuingat hanyalah jangan sampai tertidur karena hal itu akan menuntunku menjadi black out alias pingsan. aku pastikan aku terserang hipoksia serius. Tidak heran, setelah di drop dengan helikopter pada ketinggian 4200 mdpl tentulah sangat beresiko terserang penyakit hipoksia,salah satu penyakit yang paling dikhawatirkan setiap pendaki gunung. Aku dipindahkan ke tenda komando, ada seorang dokter yang mulai mengukur tekanan darahku dan mulai memberiku beberapa pil sambil mencoba untuk menyeruput teh panas dan sepiring bubur oatmeal..ternyata setelah beberapa jam gejala pusing dan kantuk itu tak kunjung reda bahkan ditambah rasa mual yang berat..tanpa bisa kutahan lagi akhirnya seluruh isi perutku ini keluar dan membuatku menjadi lemas..."sumpah!..baru kali ini kurasa bagaimana sakitnya kalau diserang sakit gunung"gumanku..walaupun lemas aku merasakan keringat mulai mengucur dan kepala lebih enteng dibanding sebelumnya, ahh,mudah mudahan saja ini pertanda baik sehingga aku bisa melanjutkan liputanku besok pagi. benar saja,... setelah makan malam kondisi jauh lebih baik dan bugar, nafasku mulai teratur dan sudah bisa kembali bergabung dengan teman teman. Malam di lembah danau danau merupakan pengalaman yang tak terlupakan olehku,..malam hening itu membawaku untuk berkontemplasi dengan alam , tak henti hentinya kupanjatkan rasa syukur pada sang khalik bahwa aku diberi kesempatan menginjakan kaki di salah satu atap dunia, yang menjadi tempat idaman setiap pendaki gunung, malam itu hampir semua rasi bintang dapat terlihat dengan jelas karena tak ada satu awanpun yang menutupi wajah jaya wijaya dan purnama menyiram cahayanya sehingga refleksi putih salju puncak sukarno mengisi latar belakang basecamp kami. sayang,.. momen itu tak bisa kuabadikan dengan kameraku karena aku lebih baik menyimpan energi baterai cameraku untuk liputan pengibaran sang merah putih di kaki cartenz summit besok pagi. Malam itu seakan malam terpanjang yang pernah kulewati, aku dengan kang soen dalam satu tenda, walaupun sudah terbungkus dengan sleeping bag bulu angsa buatan Swiss milik kang Soen, tetap saja tidak menghalangi tajamnya dingin udara malam menusuk hingga ke tulang..tenda kita tersebar diantara danau danau kecil dilembah itu dan tepat berada di ujung lidah es yang turun dari sisi gunung Sukarno. Tubuhku mulai menyesuaikan dengan ketinggian karena aku merasa lebih baik dibanding sore tadi, tidak lagi terserang hipoksia, konsentrasi dan motorikku lebih koordinatif, malah membuatku lebih sulit untuk mencari rasa kantuk..sebagian malam itu kuhabiskan menikmati siraman rembulan hingga benar benar rasa kantuk menyerangku ... Zzzzzttt..
bunyi piring dan cangkir kaleng disekitar tenda pagi itu membangunkanku,..bau masakan instan ala pendaki menarikku dari gumpalan sleeping bag untuk bergabung dengan tim lain yang sudah bangun terdahulu..hari ini kita memulai dengan berbagai kegiatan seperti apel pagi ,aklimatisasi serta persiapan upacara pengibaran bendera 17 belas agustus walau masih beberapa hari lagi sekaligus rekaman upacara dikaki cartenz summit dengan kami termasuk pembuatan iklan sebuah stasiun tv swasta yang meminta sebagian tim Poligon untuk menancapkan bendera tv tersebut pada daerah bersalju di daerah puncak sukarno dan,... yang terpenting setelah makan siang , aku dan kang soen akan kembali membawa footage kita menuju Tembagapura.
setelah menikmati sarapan, setiap orang menyiapkan kelengkapan pribadi untuk bergabung dengan kegiatan hari itu, aklimatisasi wajib diikuti setiap anggota, karena dua hari kedepan pendakian kepunggung hingga summit cartenz pyramid membutuhkan penyesuaian lagi pada 600 meter terakhir bagi setiap pendaki. tak banyak yang dilakukan dalam aklimatisasi ini hanya berjalan di bebatuan hingga salju abadi dengan elevasi ketinggian yang berbeda sehingga setiap anggota semakin terbiasa dengan ketinggian yang dicapainya. mentari semakin meninggi dan kamipun siap untuk melakukan perekaman sekaligus latihan pengibaran bendera merah putih termasuk pembacaan teks proklamasi tepat di kaki cartenz summit. perekaman ini dimaksud untuk diputar ulang tepat pada tanggal 17 agustus pada siaran langsung dari istana merdeka jakarta. setelah perekaman upacara bendera selesai, kita kembali ke basecamp untuk makan siang dan persiapan kembali berjalan kaki hingga ke Grasberg, Tembagapura. Kapten Iwan Setiawan , komandan tim POLIGON mengantar aku dan kang Soen hingga ke depan base camp, untuk selanjutnya kami berdua menuruni lembah danau danau ..." aku sepuluh tahun yang lalu bersama norman edwin menuruni jalur ini gil " kata kang Soen kepadaku dalam keheningan lembah danau danau menuju pintu angin, suatu tempat yang digelari nama oleh para pendaki karena berupa tebing yang mengapit ibarat sebuah pintu bagi angin. setelah beberapa jam berjalan kaki tiga danau dan zebra wall sudah mulai terdengar deru kendaraan berat eksplorasi PT.Freeport yang beroperasi di grasberg. tak lama kita telah memasuki area eksplorasi pertambangan dan menunggu jemputan tim pendukung POLIGON yang telah menunggu di grasberg untuk selanjutnya mengantarkan kita menuju timika untuk persiapan kembali ke Jakarta.

incredible india



Ketika menginjakan kaki di bandara  Internasional Indira Gandhi New Delhi setelah menempuh perjalanan dari dari Jakarta via Doha, Qatar  rasanya ingin cepat sampai di hotel untuk mandi dan menikmati makanan hangat dan tentunya,.. sedikit istirahat sebelum memulai menyusuri kota Delhi.  Dengan sebuah mobil kijang  tahun 80an kami menuju hotel Aravali yang telah kami pesan sebelumnya melalui internet, persisnya  di daerah Rajokri hanya beberapa kilometer dari bandara. Begitu keluar dari kompleks bandara, pemandangan kumuh dan semrawut  kendaraan menjadi suguhan utama bagi kami. Supir yang menjemput kami, tidak terhitung sudah berapa kali membunyikan klakson mobilnya sehingga kamipun tertegun,..kalau di jakarta, pengguna jalan lain sudah pasti sewot  jika diklakson bertubi tubi seperti itu,..tapi di india hal itu menjadi hal lumrah bahkan dianjurkan untuk membunyikan klakson,lebih takjub lagi setiap mobil besar dibelakangnya pasti ada tulisan yang berbunyi  please blow the horn. Memang tak heran semua kendaraan yang dipacu dengan kecepatan yang diatas rata rata, alias ngebut tentulah klakson menjadi salah satu andalan mereka di jalan raya .   Setelah  bersih bersih di hotel, perjalanan menyusuri kota new delhi dimulai dengan menggunakan taksi..dari Rajokri ke pusat kota dengan taksi dikenakan biaya sekitar 500 rupes atau sekitar 90 ribuan rupiah, walaupun ada meter terkadang taksi lebih suka untuk mematok harga atau borongan untuk kesatu  tujuan. Pertama kita mencari tempat penukaran uang karena menukar uang  di tempat tempat tidak resmi seperti toko, karena ada beberapa toko juga melayani penukaran uang, menawarkan nilai tukar  jauh lebih besar  dibandingkan dengan di authorized money changer . Untuk seratus dolar amerika jika ditukar di penukaran resmi paling banyak hanya dapat 5.100 rupes sementara di toko itu bisa mencapai 5.500 rupes. Lumayan selisihnya mencapai 80 ribuan rupiah.        Di daerah  Canakyapuri, konon mentengnya New Delhi merupakan daerah  pusat  kedutaan  dan ekspatriat, bagi kami merupakan tempat yang cocok untuk mencoba kuliner a la India. Beberapa teman berpesan jika  di India sebaiknya mengkonsumsi air kemasan karena jika  minum air sembarangan akan mudah terkena diare.. betul juga, kalau dilihat kepadatan penduduk dikota New Delhi tentunya air tanah sudah sangat tercemar dan rentan terjangkit diare. Nasi beryani, ayam tanduri  dan kari paratha menjadi menu pertama kami di Delhi, plus chai atau teh susu ala India, menu ini tidak terlalu asing bagi kami, tapi appetizer dan dessert nya yang unik, bayangkan saja sambil menunggu menu utama kami disuguhi irisan bawang bombang dengan sejenis bubuk kari sebagai makanan pembuka, tak heran kalau aroma bawang bombay sering kita jumpai di india. Kemudian untuk menu penutupnya butiran gula warna warni dengan biji adas  yang bercita rasa mint,..suguhan ini selintas semacam pakan burung,tapi oke juga,  sudah mencoba sesuatu yang lain.   Sebenarnya untuk urusan makan di india relatif lebih murah jika makan di restoran restoran kecil,  makan berdua dengan menu diatas  hanya merogoh kocek  kurang dari 400 rupes atau hanya sekitar 80 ribuan rupiah.   Setelah makan , kami jumpai hal yang  paling menyebalkan ketika kami hendak mengganti simcard  telepon kami   ke  nomor lokal  harus  memakai paspor dan dan pas photo,  rumitnya..  harus mencantumkan nomor seseorang  di india yang menjamin kita selama di negeri itu, belum lagi, konon nomor telepon  tersebut setelah diaktivasi baru bisa digunakan  dua hari kemudian, ,..bersyukur kita hanya  membutuhkan  hanya  satu hari  untuk bisa berhalo halo setelah diaktivasi ,..hahaha india banget mesti pakai repot dot com. 

Selling and yelling sudah biasa
Jika sudah sampai ke New Delhi wajib hukumnya  berkunjung ke daerah Janpath, semacam pasar sogo jongkoknya New Delhi  untuk mencari buah tangan khas India, mulai dari pernak pernik perak dan perunggu, tas dan baju jahitan india sampai hiasan dinding dan karpet..semuanya bisa didapat dengan tawar menawar. Tips untuk belanja cerdas !.. jangan lupa menawar hingga 50 persen dari harga yang ditawarkan.  Janpath merupakan salah satu tempat favorit bagi turis turis yang berkunjung ke New Delhi. Sebenarnya masih  banyak tempat menarik untuk belanja selain Janpath, ada Khan Market, pasar kecil dan tertata rapi ditujukan untuk ekspatriat, tentu hargapun berbeda,  diatas  harga rata rata  karena kenyamanan berbelanja yang ditawarkan, ada juga Delhi Hut semacam area eksebisi yang menawarkan berbagai pameran musiman. Masuk ke Delhi Hut di kenakan tiket masuk sekitar 10 ribuan rupiah per orangnya. Waktu kita berkunjung kesana di Delhi Hut tengah menyelenggarakan  pameran tekstil dan kerajinan Kashmir. Unik juga jika berbelanja di India, sekali kita melakukan tawar menawar  akan terasa lebih sulit untuk melepaskan diri dari kejaran pedagangnya yang agresif menawarkan jualnya,.terkadang mereka berjualan sambil berteriak dengan aksen india kental,  come on sir, how much do you want sir!..  pokoknya selling dan yelling itu  biasa. Di India juga surga bagi pemburu obat obatan medic, harganya memang super murah karena  pemerintah disana  memberikan subsidi yang besar bagi kesehatan dan pendidikan. Teman kami  menitipkan obat kolestrol dengan merek dagang crestor  berisi 30 kapsul hanya dihargai setara dengan 100 ribu rupiah  sementara obat yang sama di apotik atau toko obat di  Jakarta berisi 28 kapsul harganya mencapai 550 ribu rupiah. Tak heran obat obatan juga menjadi incaran turis yang berkunjung kesana. Begitupun untuk pendidikan, dengan membayar  20 juta rupiah  seorang mahasiswa dari Indonesia  sudah bisa mengenyam  pendidikan S2 plus  asrama gratis dan buku bukunya ,tinggal belajar saja, tentu lebih murah lagi bagi mereka yang berwarganegara India.

Old and New Delhi 
Di New Delhi, jangan lupa juga untuk mengunjungi Old Delhi yang terletak disebelahnya,. Disana kita akan menjumpai gambaran india sebenarnya, ada mobil, bajaj dan sapi dalam satu jalur, pengemis dan pedagang asongan serta tukang cukur pinggir jalan layaknya pasar malam, menambah semrawutnya old delhi. Di sini terdapat masjid tua  yang dikenal sebagai Masjid Jami atau Masjid Jahan Numa yang dibangun oleh Sultan  Mughal Sjah Jahan . Agak  ke selatan sekitar 4 jam berkendara  tepatnya  wilayah Agra, Uttar Pradesh Juga patut dikunjungi untuk melihat  peninggalan kesultanan Mughal lainnya  yaitu  Taj Mahal yang merupakan sebuah edifisio dari  cerita cinta sultan Sjah Jahan pada permaisurinya Mumtaz Mahal..kalau sudah begitu,  berarti sudah bisa menikmati tagline nya kementerian pariwisata india,..Incredible India.     

Sabtu, 07 April 2012

kenangku,jelang kepergianmu

Rabu sore, 14 Maret 2012.. tak kusangka kalau itu merupakan kali terakhir kami bermain sepak bola bersama. Semuanya berlangsung seperti biasa,namun yang paling kuingat dia mengenakan sepatu bola terbaik yang dimilikinya..sepatunya memang yang paling bagus dan tentunya harganya pun cukup mahal, maklum sepatu yang dikenanakannya sekelas pemain kaliber dunia..konon sepatu itu telah dimilikinya sejak lama namun baru kali itu aku melihat dia memakainya dilapangan." Le,.sepatu lu keren banget !" tukasku pada dia dilapangan bola.
" hehe,..iya lapangan sekarang ini justru merusak sepatu gua".. canda dia sambil berjalan masuk kelapangan bola "..nanti gua tunjukin kalau sepatu ini beratnya hanya beberapa ons saja.." sambungnya. Setiap hari rabu merupakan jadwal latihan sepak bola TVRI di lapangan ABC Senayan, sekaligus sebagai wahana bagi kita bersilaturahmi dengan rekan rekan TVRI dari bagian lain. Tiga hari kemudian kabar kepergiannya betul betul seperti petir disiang bolong. Rasa kehilangan yang mendalam hingga saat ini masih terasa, apalagi pada setiap hari rabu dimana kami selalu menanti saat itu untuk bercengkrama.. Selang sepuluh hari setelah peristiwa itu ,.aku berkunjung ke rumahnya menemui istrinya Rika dan kedua putranya Jelang dan Kenang, mereka memberikan sebuah kotak kepadaku"bukanya dirumah ya gil" kata istrinya. Sesampai dirumah setelah kubuka kotak itu, sekonyong konyong air mataku mengalir deras tak terbendung ternyata sepatu bola kebanggaan dia yang membuat aku takjub ketika dia masih memakainya, bahkan masih tersisa bekas tanah dari lapangan sepak bola rabu silam . Pekat rasa haru tak terhapus ketika mengingat ingat lagi kala itu ,..tak terbayangkan, kini salah satu benda kebanggaannya di lapangan sepak bola dititipkan ke aku oleh istri dan kedua putranya, bagiku merupakan suatu penghargaan yang tak ternilai dari keluarganya dan mereka telah memberikan kesempatan padaku untuk merawat ingatan pada dia melalui sepasang sepatu bola..mereka justru lebih mengerti arti persabahabatanku dengan dia...terima kasih RikaJelangKenang

Sabtu, 30 Juli 2011

Ambon dalam gambar

Senin, 06 Desember 2010

Senin, 07 Juni 2010

Caminando en Habana Vieja

Pintu reot suka ngebut pula..
Ketika menginjakan kaki di bandara Jose Marti Havana, hari sudah malam lagi pula kami sudah lelah, maklumlah penerbangan dari Madrid, Spanyol selama 9 jam ke Havana membuat kami lebih memilih istirahat dari pada keluyuran. Untuk mencapai Havana, lebih dekat dari Miami, Florida hanya sekitar 175 Km (94,5 Noutikal mil ) ke arah selatan atau penerbangan dari Cancun, Mexico. Begitu tiba di Havana kesan bahwa kuba merupakan sebuah negara yang berhenti dan tidak berkembang sejak tahun 50an, memanglah benar karena komunis begitu memproteksi warga negaranya dari dunia luar,tapi kesan itu juga hilang ketika kita melihat ada gedung bertingkat dan modernisasi yang juga menyentuh Kuba,walaupun hanya sedikit. Havana terbagi dua menjadi 2 bagian yaitu Havana baru dan Havana Tua, kota havana lebih sebagai kota pemerintahan, kedutaan, perkantoran dan perhotelan sementara Havana Tua atau dikenal Havana Vieja ditetapkan sebagai situs sejarah warisan dunia oleh UNESCO pada tahun 1978 karena memiliki ribuan bangunan tua yang indah dan antik peninggalan kolonial spanyol. Sampai saat ini bangunan bangunan itu masih dihuni oleh penduduk havana sehingga pemandangan jika kita berkunjung ke Havana Vieja terlihat sangat padat dan kumuh,..tidak heran sebuah bangunan tua dapat diisi lebih dari belasan kepala keluarga dan bangunan bangunan itu tidak boleh di cat atau direnovasi tanpa seijin PBB. Di negara komunis kedudukan setiap warga negara sama jadi mereka juga berhak menggunakan semua fasilitas negara termasuk gedung gedung,rumah dan mobil tidak ada kepemilikan pribadi jadi tidak heran kalau kita tengah naik mobil pribadi banyak orang yang melambai di tepi jalan untuk menumpang jika masih ada tempat, karena semua mobil adalah milik umum..hahaha unik juga ya Bagiku Havana Vieja memberikan pemandangan yang eksotis selain gedung gedung tua, mobil antik dan masyarakat kuba yang beragam serta pesona era tahun lima 50an membuat foto foto ku jadi menarik. selama di Havana, kemana mana aku menyewa sebuah taxi meter, jangan bayangkan taxi havana senyaman taxi jakarta. Taxi di Havana hanyalah mobil tua merek lada buatan Rusia, cadillac dan berbagai jenis produksi tahun 50an lainnya. Dengan pintu reot yang kadang sudah tak bisa tertutup rapat, belum lagi supirnya ngebut ngebut memberikan pengalaman tersendiri ber'taxi' di Havana ..hahaha..awalnya aku mengambil taxi di depan hotel, ternyata setelah ngobrol ngobrol dengan supirnya Juan , dia mau mengantarku seharian berkeliling kota,membeli souvenir dan mencoba kuliner ala kuba dari pagi sampe malam hanya dengan membayar sekitar 50 US dolar, jika di konversi ke dolar amerika Juan hanya mendapat 20-25 US dolar saja jika sehari menjadi sopir taxi ( 1 CuC = 1.6 US $ ),..terang saja dia mau..dari pada harus menyewa mobil dari hotel tentulah jauh lebih mahal.( trik ini sering kulakukan di daerah antah berantah, hitung hitung lebih murah dan sopir taxi bisa merangkap guide, plus makan siang/malam aja). hampir 80 persen kendaraan di Kuba adalah kendaraan tua buatan rusia peninggalan tahun 50an,masyarakat umum hanya boleh menggunakan kendaraan sejenis itu, jika kita melihat kendaraan terbaru di jalan raya pastilah kendaraan korps diplomatik,atau mobil artis,atlit atau dokter yang telah berjasa bagi negara, jadi mereka mendapat kekhususan memiliki mobil dan rumah.
Cerutu kaki lima rasa bintang lima
Kalau sudah sampai Havana tentulah tidak afdol kalau tidak mencoba cerutu kuba ...memang benar ! kalau mau cari cerutu disinilah tempatnya,kuba menyajikan cerutu kelas dunia jadi tak heran kuba menjadi surga bagi pencinta cerutu. Kuba adalah penghasil tembakau yang terbaik di dunia , kebanyakan hasil tembakau didatangkan dari daerah pinal del rio, sebelah barat kota havana. salah satu tempat yang tertua di havana dalam mengolah tembakau menjadi cerutu adalah Partagas real fabrica de tobacos, pabrik cerutu partagas terletak di jantung kota havana tua , ada beberapa merek terkenal seperti cohiba, romeo y julieta, montecristo dan masih banyak lagi yang di produksi disini, bayangkan saja ..cerutu dengan merek Cohiba, sekotaknya berisikan 25 batang harganya bisa mencapai 5-6 juta rupiah. memang cerutu cerutu Kuba ini diproduksi oleh tangan tangan trampil yang dilatih di escuela del cigarillo atau sekolah cerutu selama sembilan bulan,dan itupun harus lulus dan bersertifikat baru bisa bekerja sebagai pembuat cerutu di pabrik. bukan main ..!! uniknya lagi, di Havana memiliki dewan cerutu kota yang mengatur semua aspek tentang cerutu ,mulai dari rasa,kemasan hingga harga. Bagi yang memilih untuk membeli cerutu sebagai oleh oleh dari Havana tapi dengan harga terjangkau, kita bisa mengunjungi beberapa tempat penjualan cerutu yang sedikit "nyempil". Juan, menyarankan dan mengantarku ke tempat itu, semacam rumah di tengah kota havana tua, disana kita bisa dapat cerutu cerutu dengan harga murah ,kualitas dan rasa , hampir sama dengan yang bermerek, benar saja !, sebatangnya hanya 1 CuC atau sekitar 12.500 rupiah saja, murah kan? tetap cerutu dari havana,..dapat banyak lagi. ,..cerutu kali lima taste bintang lima !.
Unik dan menarik, berlama lama di ciudad de la habana... Banyak banget tempat yang bisa kunjungi di havana, seperti catedral de san cristobal, museo de art colonial, gedung capitolio dan masih banyak lagi,bagi suka "ngafe" disana ada cafe terkenal La Bodequita del medio sekaligus mencoba minuman khas kuba,mojito yang terbuat dari rum,mint,gula halus dan soda. Dan jika mengunjungi cafe El Floridita jangan lupa mencoba daiquiri sejenis jus buah yang dicampur dengan margarita dan soda, sehingga serasa menjadi Ernest Hemingway. Jika kita masuk dalam cafe La Bodequita kita masih bisa temui tulisan tangan Ernest Hemingway, pemenang nobel sastra tahun 1954 itu . Salah satu tulisan tangannya masih tergantung di dinding La Bodequita. " My mojito in la bodequita, my daiquiri in el floridita" begitulah bunyinya. Hemingway pernah menetap di kuba, rumah tinggalnya memang agak ke keluar kota havana di desa la vinca vigia dimana seluruh waktunya dipakai untuk menulis karya sastranya, seperti, "The old man and the sea". Tapi di havana tempat favorit Hemingway adalah Hotel Ambos Mundos, yang melahirkan novel "For whom the bells tolls". Jika malam menjelang kita bisa bersantai sambil menghirup udara laut di Malecon sekaligus melihat Castillo del Morro di seberangnya. kami juga sempat menikmati makan malam di cafe di dalam castillo del morro sekaligus menikmati suguhan musik latin hingga larut..menyenangkan. Besoknya setelah menyelesaikan pekerjaanku meliput konfrensi KTT Non blok ke 14 , bersama Juan kembali menyusuri Havana vieja mencari souvenir,karena hari ini adalah hari terakhir kita di Havana,.lagi lagi harus tukar uang di tempat penukaran uang,.mata uang di Kuba diberlakukan dua mata uang yaitu Peso untuk warga negara Kuba dan CuC (Cuban Convertible) untuk extranjero atau orang asing . Nilai konversi mata uang untuk satu dolar senilai dengan 26 Pesos atau sama dengan 0.8 (sen) centavos CuC. jadi kami sebagai extranjeros tidak diperkenankan belanja memakai pesos, harus memakai CuC. Begitupun dipasar, pemerintah membagi pasar untuk masyarakat Kuba khususnya menjual sembako dengan harga murah,dan los extranjeros tidak diperkenankan berbelanja disitu pula. Juan mengantarku ke pasar souvenir untuk membeli oleh oleh dan tak lupa membeli baju kemeja khas kuba. Setelah lelah berkeliling Havana kita kembali ke Hotel Nacional de Cuba untuk bergabung bersama teman teman disana. Hotel Nacional de Cuba, adalah salah satu hotel terbaik disana,dengan pemandangan indah diatas bukit malecon dan menghadap laut karibia,hotel ini salah satu hotel tertua namun masih menawarkan kenyamanan dan keramahan Kuba, tidak heran kalau sejumlah orang terkenal pernah menginap disana seperti Marlon Brando,Frank Sinatra,John Wayne , Ernest Hemingway, Winston Churchill dan tentunya Presiden SBY dan rombongan pun penginap di hotel nacional de cuba. Besoknya kami bertolak kembali ke jakarta,..volvemos a Yakarta...hasta luego Havana..!!!

Jumat, 04 Juni 2010

Devil's Island,Guyana Perancis

Alfred Dreyfus dan "Papillon" dari sini
Jika anda mengunjungi Guyana Perancis, selain dapat melihat pusat peluncuran satelit perancis di kourou,Guyana. juga jangan lewatkan untuk mengunjungi devil's island atau Ile du diable yang terletak bagian utara Guyana perancis. Guyana Perancis sendiri terletak di pantai utara semenanjung amerika selatan tepatnya diapit oleh Suriname dan Brazil. Guyana Perancis merupakan departemen perancis, atau semacam Provinsi perancis yang berada di amerika selatan. Untuk mencapai Guyana Perancis biasanya melalui Perancis. Lama penerbangan dari Orly, Paris ke Rochembeau int'l airport,Cayenne memakan waktu selama 11 jam. Cayenne, ibukota Guyana Perancis memang merupakan sebuah kota kecil, namun mencerminkan berbagai multietnis perancis, termasuk penduduk keturunan Indonesia, mereka merupakan imigran dari suriname yang bekerja di pusat antariksa guyana, tidak heran jika kita mau sholat pun kita bisa temui masjid di kota itu. Banyak tempat menarik bisa kita kunjungi disana khususnya aktivitas outdoor seperti berperahu menyusuri sungai di hutan tropis amazon yang melintasi brazil hingga ke suriname, tapi jangan lupa makan obat malaria. Tempat yang paling banyak menjadi tujuan wisata adalah ke ile du diable atau Devil's island, kurang lebih selama 30 menit dengan menggunakan boat dari Cayenne, jaraknya hanya sekitar 11 Km atau 6,9 Nautikal mil dari pantai Kourou. Beruntung aku dan Reporterku Johneri Pandia, kami difasilitasi oleh Arianespace sebuah helikopter jenis dauphin (Dolphin) menuju Devil's island. Kurang dari 10 menit kami sudah mendarat di halipad devil's island, jika dilihat dari udara, devil's island yang terdiri dari tiga pulau masing masing ile du diable,ile du royale dan ile du saint joseph, memang benar benar terisolir karena memiliki pantai dari batu karang keras dan susah didarati oleh kapal pada jaman dahulu, jadi tidak heran jika pulau itu pada tahun 1852-1946 oleh pemerintah perancis dijadikan sebagai penjara bagi para tahanan politik yang melawan pemeritahan pada waktu itu. Begitu kami mendarat sudah dijemput oleh phillipe,seorang polisi wisata yang ditugaskan untuk mengawasi sekaligus sebagai guide bagi kami. Banyak yang diceritakan bagaimana buruknya pulau ini pada jaman dahulu sampai dinamai sebagai devil's island karena konon setiap tahanan politik yang dikirim ke pulau ini pasti lah sedikit yang bisa bertahan hidup. Memang devil's island masih meninggalkan kerasnya kehidupan penjaranya hingga kini, penjara dengan elevasi 40 meter diatas permukaan laut,pada jamannya pasokan makanan dikirim melalui tali yang menghubungkan pulau satu dengan lainnya,karena bebatuan karang tajam yang mengelilingi pulau itu, bisa anda bayangkan jika ada tahanan yang ingin melarikan diri tentulah tidak akan selamat . Pernah ada sekitar 80.000 tahanan dikirim ke pulau ini oleh penguasa ,akibat mendapat perlakuan yang buruk,penyebaran penyakit dan hukuman mati ,mereka tidak pernah kembali. Anda masih ingat cerita skandal politik perancis pada tahun 1894 seorang kapten yahudi perancis, Alfred Dreyfus juga ditahan di pulau ini yang dituduh berkhianat dan membocorkan rahasia militer perancis ke jerman, dan akhirnya dibebaskan akibat kesalahan pemerintah perancis, masih ingat "Papillon" salah satu buku paling laris yang ditulis Henry charriere dan kemudian difilmkan dengan judul yang sama dan diperankan Steve Mcqueen dan Dustin Hoffman juga menceritakan upayanya melarikan diri dari kejamnya penjara di pulau ini. Devil's island merupakan salah satu dari 13 penjara yang paling brutal di dunia. Pada tahun 1938 pemerintah perancis berhenti mengirimkan tahanan ke devil's island dan tahun 1952 pulau ini resmi ditutup sebagai penjara. Kini devil's island merupakan sebuah tempat yang ramai dikunjungi wisatawan dan memang memiliki pemandangan yang indah disisi lainnya, ada dermaga dengan perahu perahu pesiar,hotel dan restaurant. kesemuanya kini telah disulap menjadi obyek wisata tanpa merubah sedikitpun bentuk bangunan peninggalan penjara. Kita bisa menginap di hotel yang dulunya penjara sekaligus merasakan aura "papillon". Selamat mencoba....!!

Jumat, 28 Mei 2010

a longa e sinuosa estrada em Lorosae

Hari itu, 26 September 1999, dengan menggunakan pesawat hercules C-130 milik TNI AU sedikitnya 29 wartawan media nasional dibawah koordinir Kol.Panggih mendarat di bandara Komoro,Dili. Kedatangan kami di Dili untuk meliput saat saat terakhir penarikan pasukan TNI dari Timor timur yang ditandai dengan penyerahan kodal (Komando dan pengendali) keamanan dari PPDM (panglima penguasa darurat militer) Mayjen TNI Kiki Syahnakri kepada INTERFET (international force for east timor) dibawah pimpinan Mayjen.Peter Cosgrove. Dengan menggunakan bus hijau milik korem kami berangkat dari bandara komoro menuju ke faroul, markas batalyon linud 700. Sepanjang perjalanan melewati jalan jalan utama di kota Dili, terlihat sangat lengang oleh warga kota, banyak barikade kawat berduri dan kendaraan militer milik interfet berseliweran termasuk helikopter black hawk meraung raung di udara. Kami walaupun menggunakan kendaraan TNI harus beberapa kali berputar karena blokade, maklumlah INTERFET seakan akan sudah tidah sabar lagi untuk memegang komando dan kendali keamanan di Timor timur. Kol.Panggih meminta kami sebelum ke markas Yon linud 700 mampir di pelabuhan dili terlebih dahulu, untuk meliput penarikan personil TNI dengan KRI Teluk Banten. Siang itu kami sampai dipelabuhan,kulihat banyak personil TNI yang tengah menunggu kedatangan KRI Teluk Banten, kebanyakan dari mereka hanya bisa mengisi waktu luang dengan bermain kartu,mencukur rambut atau sekedar tiduran didekat barang bawaan mereka,memang setiap personil sudah tidak dijinkan lagi meninggalkan pelabuhan
karena seluruhnya siap berangkat jika KRI tiba. Dibawah pengawasan tentara australia yang ketat dengan segala perlengkapan dan atributnya menunjukan kota Dili seolah olah menjadi tempat yang paling berbahaya di dunia, bagi kami itu terlalu berlebihan, "Show of force" lah, bayangkan saja dengan pakaian tempur lengkap, bullet proof vest, night vision google, senapan laras panjang steyr dan pistol glock bahkan pakai electric shock gun segala , plus kendaraan lapis baja yang moncong senjatanya di arahkan ke pelabuhan. Reporteku,Ari Purnomo Adji meminta untuk membuat PTC (piece to camera) di jembatan pelabuhan ,untuk melengkapi storynya tentang penarikan pasukan TNI dari Dili. Sesaat tengah melakukan PTC, sebuah ledakan yang menimbulkan bola api besar membumbung ke udara sekaligus mengisi frameku dan menjadi background PTC ari. segera kukemas kameraku dan kami meninggalkan kompleks pelabuhan menuju lokasi kejadian..begitu melewati kantor gubernur Tim-Tim kendaraan kami sudah diblokir oleh tank dan
kendaraan lapis baja lainnya, "you are not allowed to enter this area!" kata seorang tentara gurkha yang menjaga blokade itu.tapi kulihat banyak wartawan asing alias bule yang dengan seenaknya bisa masuk, tanpa banyak cingcong aku bersama cameraman RCTI,Deny Yuriandi dan fotografer kompas Eddi Hasby ( Eddy Hasby menerbitkan foto-foto liputan ini dalam bukunya the long and winding road) dan beberapa fotografer lainnya menerabas masuk untuk mengambil gambar. Ternyata ledakan itu berasal dari gedung bank danamon yang masih baru, sepertinya ada yang tidak rela meninggalkan gedung sebagus itu pada interfet atau Timor timur. Tidak tampak pemadam kebakaran atau upaya untuk memadamkan api tapi hanyalah tentara australia dan inggris yang panik dan siap tembak berlari sambil membidik disekitarnya
.kamipun boleh mendekati mereka dan mendapat gambar yang menarik. (foto-foto dibawah ini merupakan footage dari camera ENG kami) aku dan Deny, sepertinya saling mengerti untuk memanfaatkan situasi ini " Den,tukar kamera! lu bawa punya gua trus kita saling shooting!" teriakku pada Deny. Dengan sigap deny mengambil kameraku dan sebaliknya aku mulai merekam aksi deny. Aku dan Deni mulai bermain main diantara pasukan yang tengah siaga mencari pelaku peledakan. konyol memang kita berdua masih sempat sempatnya membuat dokumentasi pribadi yang akhirnya berguna juga hingga saat ini
(pembenaran ya? hehhe...)tak lama, seorang kapten dari brigade infanteri inggris rupanya sudah memperhatikan aku dan Deny sejak dari tadi, menghampiri kami dan berteriak " please stay away from the troops, you could be injured". Akhirnya kami sadar juga ,bagaimana kalau saat itu masih ada kontak senjata, pastilah sangat berbahaya..tapi itulah kesan kami bahwa interfet terlalu 'lebay' atau berlebihan,...tapi
bagaimanapun kami mendapat liputan bagus hari itu..setelah peledakan bank danamon kami menuju ke markas Yon 700 , untuk meliput kegiatan yang lain.Malamnya kami menginap di farol, menempati ruangan tengah yang berisikan beberapa meja panjang sehingga kami tidur sebagian di atas meja dan sisanya harus menggelar koran dilantai, malam itu kami tengah menunggu keputusan dari PDM tentang bagaimana prosesi penyerahan kodal besok pagi, kami semua berharap ,besok pagi merupakan saat saat yang ditunggu dan bersejarah, terbuka dan dapat diliput, karena kami khawatir sejak keberadaan interfet di Dili, protokoler hampir didominasi oleh INTERFET dan bisa bisa penyerahan kodalpun bisa berlangsung tertutup. Benar saja keesokan harinya, beberapa jam sebelum upacara penyerahan kodal dari panglima PDM ke INTERFET, kami diberi tahu bahwa upacara itu tertutup dan tidak bisa diliput oleh media, dengan alasan yang tidak istimewa dan berlangsung singkat. Acara itu berlangsung tepat pukul 09.00 waktu Dili dan prosesinya hanya sekitar 30 menit. Kami benar benar kecewa atas tingkah dan kepongahan INTERFET terhadap wartawan indonesia, tak heran jika pasca peristiwa itu Australia dihajar habis habisan di media internasional dan memerosotkan simpatik dunia terhadap campur tangan Australia dalam kasus Timor timur.Tak banyak yang dapat kami lakukan selain menunggu acara press confrence dari Panglima PDM,Mayjen TNI Kiki Syahnakri dan komandan INTERFET Mayjen peter Cosgrove. Dengan ditandainya penyerahan kodal dari TNI ke pasukan multinasional maka serempak juga seluruh kekuatan TNI ditarik dari bumi Lorosae, yang tersisa hanya Yon Linud 700 yang berjumlah 100 personil guna menjaga seluruh aset Indonesia yang masih berada disana. Kamipun sudah siap untuk keluar dari Timor timur,dengan menggunakan sebuah truk kayu diangkut ke bandara, suasana di jalanan jauh lebih ramai dari hari sebelumnya, tampak masyarakat mulai keluar dan turun kejalan,namun kesan sinis dan antipati terhadap indonesia masih kental terpancar dari tatapan,bahkan umpatan yang dilontarkan jika kami jumpai mereka di sepanjang jalan menuju komoro, Suasana di bandara Komoro,Dili sangat sibuk banyak pesawat militer multinasional yang take off dan landing,sedikitnya ada 6 hercules C-130 TNI AU yang sudah terparkir disanadan siap menerbangkan pasukan TNI meninggalkan lorosae. Selepas tengah hari seluruh pesawat hercules TNI AU itu melakukan start engine,taxing and taking off untuk membawa kami meninggalkan bekas anak ibu pertiwi itu. good bye lorosae....